Kamis, 23 Juni 2016

Kehilangan Senja


Benar kata orang, "kita baru tahu berharganya sesuatu ketika ia telah pergi.."
Aku pernah menulis tentang waktu. Ia yang kedatangannya sering dinanti. Yang ketika sudah berlalu kadang disesali. Jika ia datang sekarang, apa kita siap menikmatinya?

Pagi itu aku berbicara pada Senja. "Jangan mengawali hari dengan gerutu, senyum dulu..", kataku.
Aku seperti tidak ada dalam pandangan dan pendengarannya. Ia tetap berlalu dihadapanku sambil pasang muka muram. "Mengapa?", tanyaku.
"Aku sudah tidak sanggup menjalani hubungan seperti ini. Aku sudah cukup bersabar dengan waktu. Aku mau resign saja. Aku lelah.", sambil menaruh gincu dibibirnya, Senja terbata bicara.
Kami terdiam sejenak.

"Yakin? Kamu sudah terlalu sering bilang begitu. Kali ini perkara apa?", tanggapku.
"Entah, mungkin aku sudah jengah dengan semua ini. Yang aku butuhkan itu dia di sampingku.", nadanya meninggi.

"Apa ini soal omongan orang lain? Atau kerjaanmu? Atau kamu yang tidak berani bicara soal keadilan pada atasan?", tanyaku berusaha menjernihkan kekalutannya.

"Ya, tentang itu juga. Tapi, yang utama, aku ingin dia di sini bersamaku. Atau.. aku yang ikut dengannya,"

Waktu menunjukkan setengah tujuh kurang lima. Aku yakin, Senja hanya butuh sepuluh menit untuk melaju ke tempat kerja.
"Aku pamit ya..", katanya datar.

Hari itu berlalu begitu saja. Riuh tawa anak-anak yang biasanya ampuh membuatnya luluh, kini seakan tidak mempan meredam kegalauan. Moodnya tidak karuan. Omongan orang yang biasa bisa jadi perkara yang panjang urusannya,

Senja memutuskan pulang tepat waktu. Ia melihat layar HPnya. Ia merasa tidak pernah sepayah ini menghadapi kehidupan. Bahkan dia tidak punya daya untuk berkarya seperti biasanya. Biasanya, kalau suntuk, ia langsung mengambil peralatan menggambarnya. Menuangkan segala rasa dalam karya. Tapi siang itu, ia hanya menatap layar HP miliknya. Apa yang ia lihat? Obrolannya bersama Nirwana yang telah usang. Ya, salah satu kesukaannya, membaca lagi obrolan dalam media sosialnya.

Kadang ia tersenyum kecut, kala membaca gombalan Nirwana yang nggak banget, yang sekaligus ia rindukan.
"Sudah lama tidak seperti ini.. Mungkin dia sibuk,"

Tiba-tiba, muncul pesan dari seorang yang tidak pernah ia pikirkan akan menghubunginya.
"Hei, Jelek, baca blogku ya.. Kasih pendapat ya.."

Entah mengapa Senja begitu penasaran. Apa gerangan yang membuat lelaki ini menulis lagi di blog usangnya. Apa isinya?

"Apaan sih.. Kenapa dia ngomongin hal yang sudah usang. Aku sudah berusaha melupakan semua itu. Dan ia datang, tiba-tiba.. Ah sudahlah.. ", Senja merebahkan badannya, memasang MP3 dengan volume tidak biasa.
Dan, tertidurlah ia...

Ia terbangun pukul delapan. Ia seperti orang linglung, bingung dengan dirinya. Apa yang ia rasakan seperti mimpi. Membaca tulisan yang mengusiknya. Konspirasi semesta! Menjadikan hari itu begitu melelahkan untuk hatinya.

Hari itu, hujan tidak turun. Dan, ia melewatkan senja yang dirindukannya.

"Apa kataku, kamu terlalu sibuk mengkhawatirkan hatimu. Sampai kamu melewatkan senja hari ini.. Bodoh!", kataku,

Sabtu, 23 Januari 2016

Senja, Timur dan Nirwana

Kali ini, aku ingin menulis yang bukan kisahku. Bukan melulu kehidupan nyata yang seringkali menipu mereka yang membacanya, seolah-olah hidupku ini tampak dramatis dan happy ending. Bukan!
Ini kisah imajiku, Mungkin yang pertama, Kisah tentang perempuan bernama Senja dan lelaki bernama Timur. Yang keduanya tidak perah bersatu. Bukan karena namanya yang berseberangan, tetapi waktu mereka yang selalu salah.

Senja, nama yang tidak biasa. Bagaimana mungkin ada orang tua yang menamai anaknya "Senja". Senja, memang seorang perempuan yang tidak biasa. Ya, Tidak biasa dengan riuh togkrongan malam, minuman beraroma pekat, atau dandanan berlebihan. Senja itu sederhana.


Sampai suatu waktu, ia bertemu lelaki bernama Timur. Lelaki yang pernah begitu sering mengisi time line jejaring sosialnya. Tapi itu sudah berlalu, beberapa tahun lalu. Mungkin mereka tak akan pernah bertemu, karena Timur berada di ujung barat negeri ini. Sedang Senja, melanjutkan kehidupannya di kota yang berjarak ribuan kilo dari Timur. Mustahil mereka bertemu.


Butuh waktu lama untuk keduanya saling bertegur sapa. Ya walau tanpa suara, hanya via jaringan komunikasi buatan manusia. Kadang Timur memulai percakapan di dunia maya, sekedar bertanya kabar atau yaa.. menunjukkan kepedulian lewat ucapan selamat. Senja, kadang alam bawah sadarnya masih belum terbiasa tanpa TImur, sesekali masuk dalam mimpi, dan yaa,.. itu jadi alasan untuk memulai percakapan dengan Timur.


Di suatu pagi, Senja terbangun oleh karena mimpi. Kelebihan Senja dibanding orang pada umumnya adalah kemampuannya mengingat  mimpi. Bahkan mimpi terburuknya ketika ia masih kecil. Malam itu, ia bermimpi bertemu Timur. Setelah sekian lama tak jumpa, agak aneh rasanya memimpikan orang yang sama sekali tidak kita pikirkan. Tapi kenyataannya,,,


Senja: "Hai.. semalam aku mimpiin kamu.."

Timur: "Tentang apa?"
Senja: "Aku melihatmu hendak pergi, menyeberangi lautan luas, entah kemana.. yang jelas kamu hendak bersenang-senang.."
Timur: "Tidak seperti mimpimu, kenyataan hidupku begitu menyedihkan. Bahkan aku tidak percaya akan menemukan cinta. Bingung mau mulai darimana.."
Senja: "Ayu Utami pernah bilang, jangan memulai sesuatu dengan ketakutan,,"
Timur: "masih suka baca novel ya.."
Senja: "sesekali kalau butuh tambahan kosa kata..."

Jarang, ada orang yang mau menuliskan kisahnya dengan masa lalu, ketika ia sudah menjalani hidupnya yang sekarang. Tidak dengan Senja. Menurutnya, bukti bahwa ia sudah benar-benar melepaskan Timur adalah ketika ia selalu ingin tahu apakah Timur sudah bahagia seperti Senja yang bertemu Nirwana. [...] Ste